Tentangku (bagian satu)

 

Akan kuceritakan tentang seorang perempuan, dari sudut pandangku.

"Saya menyukai membaca."

Terlahir di keluarga muslim, untuk mendengar ceramah nonis atau melihat lambang salib sedikit saja tidak diperbolehkan. Namun, saya adalah pengagum David, Yeshua, dan Abraham.

Benar, saya pembaca injil, torah dan mazmur juga. Mengapa saya membaca selain alquran?

Jawaban saya, mengapa tidak? 

Membenci yahudi?

Tidak sekalipun saya memandang sebelah mata kaum yahudi dan nasrani. Sebaliknya, saya menghormati mereka.

Selain agama lain, saya juga mempelajari banyak madzab dan manhaj. 

Banyak manusia dengan pemikiran sempitnya menganggap madzab mereka anut adalah yang terbaik hingga lupa bahwa hukum yang dianutnya merupakan asumsi dari manusia yang "mungkin" lebih pintar dan bertaqwa dari kita. 

Jika kamu menengok hatimu pada saat sepi, di sepertiga malam, dalam keadaan puasa yang paling mendekati batas  kemampuanmu, barangkali kamu juga akan mendengar, bahwasanya Tuhan ada bukan hanya untuk dirimu. Tuhan adalah penguasa semua nyawa. Maka beda dan perbedaannya adalah keindahan, sampai kamu yang memutuskan berada diatasnya atau berjalan selaras dengan keindahan itu.

"Saya menyukai pantai"

Saya belum bisa melihat jiwa saya. Yang kulihat masih sematas raga. Namun, setiap melihat laut dari bibir daratan. saya seolah melihat diriku sendiri. Seolah pantai adalah cerminanku. 

Apa kamu masih ingat bagaimana Moses membelah lautan?

Berapa banyak angin yang diutus Tuhan untuk membelah partikel air yang erat satu dengan lain? Semudah itu Tuhan memisahkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lalu bagaimana Tuhan mengembalikan kembali lautan itu? Semudah itu pula Tuhan mempertemukan satu dengan yang lain meskipun terpisah.

Apa kamu masih ingat bagaimana Tuhan menghukum Adam dan Hawa?

Dia menurunkan keduanya di bumi. Apa itu hukuman?Atau hukuman sesungguhnya adalah terpisahnya mereka berdua saat diturunkan di bumi?

Saat pertobatan mereka diterima, keduanya dipertemukan kembali. Maka tidakkah kita belajar darinya, barangkali kita tidak benar-benar merana karena pertobatan ini. Kita masih bergelut dengan dosa satu dan lainnya. Itu sebabnya tidak dipertemukannya kita pada dia yang ditakdirkan untuk kita.

Tapi, apakah kamu tahu?

"Aku lebih menginginkan kematian daripada pernikahan"

Mengapa?

Jawabannya, mengapa tidak? 

Saya bukan perempuan pemilih. Bahkan saya tidak memiliki kriteria atau standard tertentu. Tapi lihat saja pada apa yang saya baca dan apa yang saya yakini. Adakah yang bisa sefrekuensi?

Maka jelas aneh jika memang ada. Tidak komit pada madzab tertentu saja sudah terdengar seperti tidak berpendirian, dan tidak memiliki pegangan. Kalaupun ada, saya yakin dia tidak memahami benar teologi secara menyeluruh. Lalu bagaimana anak saya kelak menjalani hidupnya? Sebab, barangkali hidupku lebih pendek darinya. Berpikir kejauhan? Ya memang benar.

Jika saja bukan karena Tuhan dan perintahnya, barangkali tidak menikah adalah sebuah keputusan saya. 

Maka untuk Tuhan semata lah, hidup saya. Jika apa yang saya benci adalah apa yang saya harus lakukan, maka saya akan melakukan. Meskipun saya tidak tahu kapan.


Komentar

Postingan Populer