Remah takdir



Guguran bunga tak berarti

Semilir lembut angin di pantai pula

Bahkan rumah nanas yang menguning

Semua hanya remahan roti 

Jangan berbisik di balik dinding, ucapku sendiri

Aku menggenggam erat angin untuk menjadikannya perisai

Lalu terkekeh saat musim hujan

Meresap tetesan lazuardi pada bumi

Menyesap pada pori-pori yang tak nampak

Apa kamu baik-baik saja?

Setidaknya tidak ada suara itu 

Jadi tak perlu kujelaskan panjang lebar bagaimana

Dinding ini milikku. Selamanya milikku.

Takkan kubirkan gema suara itu menyesakkan ruangku.

Komentar

Postingan Populer